Hari Pendidikan Nasional 2026

Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua
Oleh:
Dr. Arif Rahman Aththibby, M. Pd. Si. (Dekan FKIP UM Metro)
Menguatkan partisipasi semesta dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua bukan sekadar slogan seremonial setiap 2 Mei, tetapi sebuah refleksi mendalam tentang arah pendidikan nasional. Pendidikan tidak boleh direduksi menjadi sekadar proses mencetak tenaga kerja atau memenuhi kebutuhan industri semata. Pendidikan memiliki mandat yang jauh lebih luas dan mendasar, yakni membentuk karakter manusia Indonesia seutuhnya sebagaimana tercantum dalam tujuan pendidikan nasional: mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, paradigma pendidikan perlu terus diarahkan pada upaya memuliakan manusia, bukan sekadar menyiapkannya menjadi “siap kerja”.
Dalam konteks ini, pendidikan yang memuliakan menempatkan peserta didik sebagai subjek yang utuh memiliki rasa, karsa, dan cipta bukan sebagai “wadah kosong” yang diisi pengetahuan secara mekanistik. Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik atau nilai rapor, tetapi dari kemampuan individu mengenali potensi dirinya, membangun karakter, serta memiliki kemandirian belajar sepanjang hayat. Pergeseran paradigma ini menjadi sangat penting di tengah arus globalisasi dan tuntutan kompetensi abad ke-21, agar pendidikan tidak kehilangan arah filosofisnya.
Penguatan kembali konsep Tri Pusat Pendidikan menjadi kunci dalam mewujudkan pendidikan yang holistik. Keluarga sebagai lingkungan pertama membentuk dasar karakter, nilai, dan integritas anak. Sekolah berperan sebagai ruang pengembangan intelektual dan sosial yang inklusif, di mana guru tidak lagi sekadar pengajar, melainkan fasilitator dan mentor pembelajaran. Sementara itu, masyarakat menjadi ruang kontekstual yang memperkaya pengalaman belajar melalui interaksi nyata dengan kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya. Sinergi ketiga pusat ini menegaskan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya institusi formal.
Di era kemajuan teknologi yang pesat, tantangan pendidikan bukan hanya bagaimana memanfaatkan teknologi, tetapi bagaimana menjadikannya tetap manusiawi. Teknologi harus menjadi alat untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, bukan menggantikannya. Pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang mampu menyeimbangkan antara kecakapan global dan akar lokal, antara kecerdasan intelektual dan kematangan karakter.
Dengan demikian, momentum Hari Pendidikan Nasional 2026 seharusnya menjadi ajakan reflektif bagi seluruh elemen bangsa untuk kembali menempatkan pendidikan pada hakikatnya: membentuk manusia yang utuh, bukan sekadar pekerja. Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah proses panjang yang hanya dapat terwujud melalui gotong royong semua pihak keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membangun generasi yang berkarakter, berpengetahuan, dan bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa.